Pesan Ramadan Dalam Membentuk Karakter Keluarga dan Bangsa

  • Share
Dr. Zulkifli, MA, Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang
Dr. Zulkifli, MA, Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang

Oleh : Dr. Zulkifli, MA

Dosen Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Tangerang

Segala puja dan puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang maha ghofur yang telah memberikan beribu ribu kenikmatan kepada kita semuanya dari manusia yang bersyukur sampai dengan manusia yang kufur, Pada hari yang fitri ini kita bersama-sama mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid.

Kalimah takbir “Allahu Akbar” sebagai pengakuan akan kemaha besaran Allah sekaligus pengakuan betapa kecilnya kita manusia dihadapan kekuasaan Allah,,,,

Kalimah tahlil “Laa ilaaha Illallah” sebagai pengakuan kita sebagai hambaNya untuk mengabdi dan menyembah, tunduk dan patuh hanya kepadaNya semata, bukan kepada lainNya…

Kalimah tahmid ucapan Walillahil hamd” sebagai pengakuan, bahwa hanya Allahlah Dzat yang patut dipuji, karena hanya Dia yang pantas untuk menerima pujian.

Bersyukur kita kepada Allah SWT, Setelah sebulan kita melaksanakan ibadah puasa maka sejak terbenamnya matahari kemarin kita telah ditinggalkan oleh tamu istimewa dan telah meninggalkan kita. Semua makhluk disekeliling kita menangis dari mulai malaikat, manusia merasa kehilangan bulan yang agung tersebut. Pada hakikatnya belum tentu kita akan bertemu kembali kecuali dengan izin Allah SWT.

Dengan datangnya tamu Istimewa tersebut kita ditatar untuk mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan, dengan demikian pada hari ini sampai 11 bulan kedepan diharapkan ruhani dan jasmani serta mental kita dalam kondisi yang suci bersih dari noda dan dosa. Sebagaimana Allah berfirman QS. 87 ayat 14-15

Ayat 14

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),

«قد أفلح» فاز «من تزكى» تطهر بالإيمان.

(Sesungguhnya beruntunglah) atau mendapat keberuntungan (orang yang membersihkan diri) dengan cara beriman.

Ayat 15

وَذَكَرَ ٱسْمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىٰ

dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

«وذكر اسم ربه» مكبرا «فصلَّى» الصلوات الخمس وذلك من أمور الآخرة وكفار مكة مُعرضون عنها.

(Dan dia ingat nama Rabbnya) seraya mengagungkan-Nya (lalu dia salat) maksudnya, mengerjakan salat lima waktu, hal ini merupakan perkara akhirat; akan tetapi orang-orang kafir Mekah berpaling daripadanya.

Momentum hari raya Idul Fitri tahun ini sudah lebih baik masa transisi dari pandemi kepada endemi semoga cepat normal sedia kala aamiin., Beberapa tahun kebelakan kita dihadapkan musibah yakni ditimpakannya virus Corona atau covid 19. Covid 19 menimpa kepada semua kalangan, tidak mengenal jabatan, tidak mengenal status sosial,  tidak mengenal suku dan agama bahkan tidak mengenal umur. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan dibenak kita semua, yakni Kenapa Allah tidak menimpakan musibah ini kepada orang-orang yang berbuat zalim saja? Jawabannya adalah dengan membaca surat al-Anfal ayat 25;

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً  وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Artinya: Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Qs. al-Anfal ayat 25)

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa kita harus berhati-hati dan  mawas diri akan datangnya fitnah berupa ujian dan bala, dimana keduanya tidak saja akan ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat zalim secara khusus, tapi akan ditimpakan juga kepada semua orang yang tidak bersalah disekelilingnya, jika mereka tidak mau mengingatkan, menegur, dan mencegah kezaliman yang terjadi.

Sudah dua tahun ini kita masih dalam masa pandemi covid-19 dan era endemi masa peralihan menuju normal, umat Islam menyambut hari raya idul fitri dengan tetap mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang telah diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT: QS. 2 ayat 185

وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Rasulullah Saw bersabda:

زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر

Artinya: “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda.

“Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: ‘Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajian dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka’. Sesorang kemudian berseru: ‘Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan’. Kemudian Allah pun berkata: ‘Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbukalah  untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.”

Keluarga merupakan miniatur terkecil dari sebuah bangsa, jika keluarganya benar dan bagus sudah dipastikan negara atau bangsa bagus, Bulan Ramadhan merupakan bulan silaturahminya keluarga. Ayah sebagai Rektor keluarga dibulan suci Ramadhan lebih cepat pulang dari pekerjaannya dan banyak waktu untuk memberikan kebaikan contoh teladan untuk anak dan istrinya. Sebuah aktivitas membangun kesalehan keluarga lewat pendidikan, pengajaran dan pembiasaan dikeluarga. Maka aktivitas pendidikan dikeluarga dalam membentuk karakter anak dan keluarga yang terbaik dengan memberikan kenyamanan kepada anggota melalui pesan dan kesan ramadhan dengan kedua orangtua menjadi teladan. Ada empat pesan ramadhan yang semestinya kita pegang teguh bersama untuk perubahan pada diri setiap pribadi dan keluarga sehingga ramadhan tetap membekas dalam jiwa dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari selama 11 bulan kedepan. Dengan demikian surat ke 4 ayat 9 merupakan pegangan orangtua agar selalu diingat dalam membentuk karakter keluarga.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Pertama:

Pesan yang harus diperhatikan untuk kedua orangtua dalam membangun  karakter keluarga di bulan ramadhan

Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”

[HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no: 285].

Membangun karakter keluarga dibulan  Ramadhan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW telah teraplikasikan terlihat dalam kehidupan sehari-hari, hal itu menjadi sebuah persiapan selama 11 bulan kedepannya. Pentingnya tadarus Al-Qur’an dalam diri pribadi untuk menguatkan keimanan dan keistiqomaan dalam kehidupan, keutamaan yang lain dalam mempersiapkan hidup dan kehidupan antara lain, perniagaan dan perdagangan yang tidak pernah merugi, memperoleh pahala yang banyak, mendapatkan syafaat pada hari kiamat, sebagai kebaikan bagi pembacanya sendiri, dan merupakan pencapaian yang lebih  baik dari harta dan dunia. Di dalam Al-Qur’an QS. Al-A’rof ayat 204 yang Al-Qur’an. Maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.

Dengan kita membaca Al-Quran dibulan suci Ramadhan serta mentadaburi merupakan suatu perintah menyimak, melihat bacaan Al-Qur’an serta membaca, dengan mendengarkan mendatangkan kasih sayang Allah apalagi membacanya. Beberapa keutamaan membaca Al-Qur’an yang disebutkan oleh para ulama dibulan Ramadhan antara lain, menjadi pelembut dan penerang hati, memudahkan segala urusan manusia, menjadi fasih dalam lisan, terkabulnya keinginan atau permintaan, mendatangkan kebaikan. Dengan adanya perencanaan dan perangkat dalam kurikulum Ramadhan mempersiapkan diri dan keluarga menjadi Istiqomah dalam mempersiapkan bulan-bulan berikutnya. Pada akhirnya Ramadhan akan selalu berbekas pada pribadi dan keluarga ketika pesan tersebut selalu diimplikasikan ketika dibulan selanjutnya selalu melaksanakan puasa setelah puasa 6 hari di bulan Syawal, dengan melakukan puasa senin dan kamis atau puasa ayyamul  bidh, 13, 14, 15 setiap bulannya,

Pesan Kedua

Implikasi yang kedua selalu rutin membaca Al-Qur’an disetiap waktu secara bersama dengan keluarga. Dengan membaca dan mengaplikasikan ayat-ayat Al-Qur’an didalam kehidupan akan berguna pada ketentraman jiwa manusia dan sebagai pengobat hati. Nabi Muhammad SAW bersabda: Shoum atau Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada manusia di hari kiamat, puasa akan berkata’ Ya Allah aku telah menghalangi dari makan dan syahwat  maka perkenankanlah aku memberikan syafaat untuknya, Sedang Al-Qur’an akan berkata Ya Allah aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafaat untuknya, maka Allah SWT memperkenankan keduanya. (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Pesan Ketiga

Implikasi pesan yang ketiga setelah Ramadhan pembiasaan pribadi dan keluarga selalu melaksanakan sholat malam, dengan melakukan sholat malam akan selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta. Sebagaimana dalam QS. 17 : 79 yang artinya, Dan pada sebagian malam hari sholat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Dengan selalu Istiqomah melaksanakan sholat malam berarti muhasabah dan menilai diri untuk lebih baik lagi. Ali bin Abi Tholib pernah berkata sebaik baik manusia adalah yang paling baik kepada Allah SWT, jadilah kita manusia yang paling bermuhasabah untuk pribadi menghitung apa saja yang sudah kita perbuat untuk hari esok dan jadilah manusia yang biasa saja dihadapan sesama manusia.

Pesan Keempat

Implikasi yang keempat setelah Ramadhan pembiasaan pribadi dan keluarga selalu bersedekah dan berbuat kebaikan. Dengan bersekah maka akan menjadi penangkal musibah dan bala. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah amalan yang selalu berlanjut tidak ada putus-putusnya atau Istiqomah dalam kebaikan.(HR. Muslim). Implikasi kelima dari kurikulum Ramadhan selalu beribadah tepat waktu, jadilah kau hamba Allah yang senantiasa beribadah kepadah Allah jangan hanya beribadah di bulan Ramadhan saja, tetapi mengerjakan selalu di 11 bualan berikutnya.

Dengan adanya pendidikan, pengajaran serta pembiasaan dalam sebuah perangkat yang direncanakan baik bersifat pribadi atau keluarga merupakan sebuah bukti peran kedua orangtua dalam pembinaan jasmani dan rohani untuk membentuk nilai-nilai ke Islaman pada karakter pribadi anak dan keluarga. Disnilah kita harus jeli dalam mempersiapkan mental dan karakter anak, walau dimasa-masa transisi menuju normal yang sudah 2 tahun ini melanda dunia tetapi tidak mengurungkan niat kita sebagai orangtua dan pendidik, pribadi dan lain-lain untuk tetap Istiqomah untuk keluar dari wabah serta memberikan pendidikan dan pengajaran yang terbaik. Dari sinilah kita dan keluarga membangun pembiasaan apalagi di bulan Ramadhan yang baru meninggalkan kita, Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam mengatakan bahwa keluarga juga dikatakan pendidik yaitu kedua orangtua, pendidik dalam Islam adalah siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didiknya yaitu keluarga. Semoga perencanaan yang di desain secara baik akan menghasilkan keluaran yang terbaik, dengan adanya kurikulum kepribadian keluarga akan menghasilkan semangat Ramadhan di 11 bulan kedepan, wallahu a’lam bishawab.

Demikianlah empat pesan yang disampaikan oleh Ramadhan sebagai pembangun karakter keluarga. Maka dari itu, mari kita bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan keempat  pesan ini ke dalam bingkai kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat bahkan negara. Marilah kita bersama-sama mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain; menjalin hubungan silaturrahim serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda-bedakan setatus sosial, serta menyandang karakter Islami  untuk membangun sebuah keluarga dan bangsa yang  solid taat serta patuh kepada Allah SWT, wallahu a’lam bishawwab.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.